Disqus for NHnime

Last Updates

[Review Anime] Shigofumi

Natsuka - Kaname - Chiaki - Fumika - Kanaka (tongkat) - Fumika - Haruno - Tatsumi - Matoma (tongkat)

Basic Information: Ke link berikut



Ngelantur Sebentar:

Suatu kali saya lagi jalan-jalan di AniDB. Ngecek kalender season Fall 2015 ini, ketemulah Heavy Object, dengan penulis light novel yang sama dengan To Aru series (Index/Railgun). Nah, isenglah saya ngekliklink studio J.C. Staff, studio yang memproduksi nama-nama judul yang saya sebut tadi. Liat judul-judul anime yang udah pernah diproduksi (saya emang suka sekali-sekali ngeliatin daftar nama XD), scroll terus, dan... ketemulah judul ini.

Shigofumi; ã‚·ã‚´ãƒ•ミ; 

Judul official-nya ditulis dalam katakana, yang secara literal berarti "surat setelah kematian". Dalam hurufkanji ditulis: 死後文.

Mungkin banyak orang yang nggak tau anime ini, termasuk saya sebelum jalan-jalan tadi. Kalo saya karena memang belum bisa donlot anime sendiri ketika anime ini ongoing (Januari 2008), baru mulai rutin donlot sekitar 6 bulan setelahnya dan masih doyan ecchi harem-harem waktu itu. #abaikan #nggakpenting

Lalu apa yang bikin saya tertarik tiba-tiba?
Jujur aja, saya penasaran dengan average score-nya di AniDB yang bisa mencapai 7.8 sekian sekian, plus rata-rata review rating 8.66 ketika review ini ditulis. Setahu saya, para user AniDB itu lumayan sadis kalo kasih nilai, lebih sadis dari MAL (MyAnimeList). Segala celotehan di bagian "Comment" dan "Recommendations" juga cukup positif. Padahal saya biasanya nggak terlalu terpengaruh dengan angka pada rating dan apa kata orang lain, karena saya tahu selera orang bisa beda-beda. Tapi entah kenapa kali ini... ah ya sudahlah.

Yang jelas penilaian itu sedikit salah. Buat saya pribadi, seharusnya sedikit lebih tinggi.



Sinopsis:

Fumika adalah seorang gadis yang bertugas mengantar shigofumi, surat terakhir dari seseorang yang sudah meninggal, yang ditujukan kepada orang-orang terdekat. Entah keluarga, teman, kekasih, atau orang lain yang dirasa oleh sang almarhum layak untuk menerima. Dalam pekerjaannya, Fumika selalu ditemani oleh partnernya, Kanaka, tongkat serbaguna yang bisa berbicara.

Hingga pada suatu misi pengantaran, Fumika tak sengaja bertemu seseorang teman lamanya ketika SMP. Teman lama tersebut, Nojima Kaname, pun mulai menyelidiki kenapa Fumika tiba-tiba menghilang dari sekolah dan menjadi pengantar shigofumi.
SEMBAH SUNGKEM KEPADA TUKANG POS GAIB #plak


Review:

Well, well, well. Jika selama ini Lunatic Moe penuh dengan review berbau anime-anime ringan, slice of life, adem ayem, unyu-unyu, romantis, drama, dan sejenisnya, maka kali ini berbeda total.

It's dark.

Betul. Anime ini bernuansa cukup gelap jika dibandingkan dengan judul-judul lain yang pernah dibahas di sini. Tapi anehnya... saya suka. Malah menurut saya Shigofumi ini merupakan "hidden gem". Nggak pernah mencuat gila-gilaan, nggak menjadi anime mainstream, namun tetap punya sisi indahnya tersendiri.

Tentu ada alasan-alasan yang menyebabkan saya berkata demikian. Langsung ke kelebihan!
Ketika loli bertemu loli. #plak

Letter #1 - Depiction of death!

Selama ini saya biasanya menghindari anime-anime berbau kematian karena takut ketemu yang beraura horor. Kalo boleh jujur... saya nggak kuat. Takut, serius. (T__T)

Tetapi sodara-sodara! Tidak dengan Shigofumi.

Anime ini nggak punya maksud untuk menimbulkan efek merinding, meski cukup banyak kematian yang diceritakan di sini. Setiap kematian memiliki alasan kuat, logis, dan nggak mengada-ada. Nggak ada yang namanya satu karakter dibikin mati cuma sekedar mati sia-sia, pasti ada sesuatu yang mendalam yang ingin disampaikan.


Letter #2 - Memento mori!

Pernah denger ungkapan berbahasa Latin tersebut? Jika belum, nggak perlu repot-repot ke Google. Arti dari frasa tersebut adalah "ingatlah akan kematianmu". Sebenernya Plastic Memories dan Shigatsu wa Kimi no Uso punya pesan yang serupa, tetapi keduanya diungkapkan secara sweet-romantic sehingga mungkin penontonnya lebih menangkap yang romantis-romantisnya itu lalu langsung baper dan galau berhari-hari.

Jelas beda dengan anime ini. 

Shigofumi menyampaikan pesan "memento mori" dengan cara yang lebih dekat dengan makna kematian itu sendiri, secara gloomy, dark, and melancholic. Bener-bener gamblang menunjukkan realita kematian tanpa harus diselimuti gula-gula. Berhubung saya nontonnya serius, anime ini pun sukses membuat saya masuk ke dalam perenungan serta refleksi diri untuk selalu ingat... kematian bisa datang kapan saja. Nikmati hidupmu, namun jangan lupa kalau segala sesuatu ada akhirnya.
"Apa lo liat-liat?" #eh 

Letter #3 - Karakter!

Banyak karakter dari yang utama sampai sampingan punya hal-hal greget yang dikupas secara menarik dalam waktu singkat. Faktor ini menjadikan Shigofumi menjadi anime yang efisien, menyampaikan BANYAK hal hanya dalam 12 episode + 1 OVA melalui karakter-karakternya. Juga seringkali anime ini menampilkan karakter-karakter yang amat sangat manusiawi, yaitu bermain di "wilayah abu-abu". Bukan cuma itu. Saya pun berhasil dibuat benci abis-abisan sama karakter antagonisnya, yang artinya dia sukses dibikin jadi antagonis. Silakan nonton untuk tahu siapa yang saya maksud. :P

Saya nggak bisa sampaikan bagian ini terlalu detail. Faktor karakter ini mengandung twist yang berpotensi membuat Anda menyesal bahkan bete jika informasi tersebut sempet kebaca. Pokoknya dalam hal penyampaian karakter, anime ini patut saya acungi jempol! d(≧∀≦)b


Letter #4 - Komposisi!

Ini mengerikan. LUAR BIASAHHH! Komposisi yang unik dan nggak biasa menjadikan Shigofumi melejit di mata saya. d(≧∀≦)b

Dengan tugasnya sebagai pengantar shigofumi, Fumika tentu harus berhadapan dengan kejadian-kejadian episodik yang layaknya ditemui di anime-anime slice of life. Ini saya golongkan sebagai side stories, karena nggak ada hubungan sebab-akibat secara langsung dengan inti cerita. Nah, tapi seperti yang dikatakan di sinopsis, misteri tentang kenapa Fumika menjalani profesinya itu pun juga diungkap. Inilah main plot-nya, berbalut psychological drama.

Perpaduan dark slice of life dan psychological drama dikemas secara cantik di sini. Jarang-jarang juga saya ketemu anime yang sanggup mengikat side stories dan main plot dengan benang merah yang tersirat. Meski berisi 2 hal yang kelihatannya nggak nyambung secara sekilas, namun teknik komposisi yang super menjadikan flow cerita nggak terasa "terkotak-kotak" (bahkan saya melihat banyak side stories itu "simulasi"/"analogi" dari main plot). Hebatnya lagi, baik side stories dan main plot sama-sama berhasil mencengkram ketertarikan saya sehingga nggak terasa... udah kelar aja keseluruhan serial!
Dat cold face. :3



Visual! Not really great untuk ukuran tahun 2008 (kebanting Clannad, True Tears, ARIA the Origination...), mungkin karena budget J.C.Staff udah abis buat Shakugan no Shana Second yang mulai tayang diseason sebelumnya (#sotoy). Tapi masih oke lah, bisa ditolerir mata. Dan juga untuk anime bernuansa gelap-gelapan seperti ini, pewarnaannya berhasil menyampaikan aura gloomy secara baik.

Musik! Saya nggak demen sama opening theme-nya karena faktor penyanyinya, Ali Project. I never really liked Ali Project karena terlalu... gitu deh, saya agak puyeng dengernya. Ending theme-nya (Chain dari*Snow) lumayan enak, cocok dengan aura melankolis yang diceritakan di sepanjang anime. Selesai menonton, kuping pun dimanjakan dengan musik yang sedap-sedap mengalun asoy. #apasih

Masalah seiyuu... nggak banyak yang spesial. Yang lumayan adalah seiyuu-nya Kanaka,seiyuu veteran Matsuoka Yuki. Saya juga kangen denger suaranya Ueda Kana. Asik juga ternyata sewaktu ngisi suara Fumika. Apalagi pas nyebut "shigofumi", sedap membahana dah~ d(≧∀≦)
Chiaki is also cute, but... feels. *mewek*



Hidden gem, namun bercacat. Ibaratnya anime ini kayak berlian yang dipotong secara salah, membuatnya nggak berkilau secara maksimal. Iya, nggak 10/10 karena punya satu kelemahan yang parah buat saya.

Satu kelemahan tersebut adalah...

Ending cerita!

Episode 1 sampai 10 itu super luar biasa, baik dalam penceritaan side stories maupun main plot. Namun sayang seribu sayang, anjlok begitu episode 11 dan 12. Konflik utamanya memang selesai, tapi... kuantitas dan kualitas dramanya turun, menghasilkan buah ending yang setengah matang. 

Pace kedua episode tersebut juga mendadak ngebut (meski tingkat keparahannya belum sampai ancur lebur), padahal selama 10 episode lumayan pelan-pelan dingin. Buat saya, pace lambat seperti itu malah cocok buat anime ini. Walhasil... cengkraman greget yang saya rasakan malah memudar danending menjadi kurang fulfilling. Mungkin jika ditambah 1 episode lagi (total jadi 13 eps + 1 OVA) akan lebih baik dalam penyampaian ending-nya.

Sayang aja sih ending-nya kurang. Tapi... kembali ke analogi tadi. Meski dipotongnya salah, tapi tetep aja namanya berlian, kan? :P
"Hah, udah abis reviewnya?"


---------------



Rating:

9.0/10 (A rank) buat Shigofumi karena komposisi ceritanya yang luar biasa, berhiaskan karakter-karakter yang menarik secara sifat dan perilaku. Tentu juga untuk pesan mendalam yang disampaikan.

Direkomendasikan bagi yang mencari anime-anime dark yang nggak bikin histeris ketakutan. Juga bagi yang menginginkan tontonan yang enjoyable dan tetap bermakna.
Shigofumi. Untuk Anda.

Admin


                  Merry Christmas! Selamat Natal bagi yang merayakan!


---------------

Kiri ke kanan: Nishinosono Moe - Saikawa Souhei - Magata Shiki

Basic Information: Ke Link Berikut



Ngelantur Sebentar:

Subete ga F ni Naru: The Perfect Insider; Semuanya Berubah Jadi F: Orang Dalam Yang Sempurna.

Ergh, kok rasanya aneh ya kalo diterjemahin ke bahasa Indonesia. (=__=)"

Well, apapun terjemahannya, saya nggak akan bahas lebih lanjut. Langsung ke review karena udah ada first impression-nya. Hajar!


Sinopsis:

Saikawa Souhei (selanjutnya akan saya sebut Saikawa-sensei), seorang profesor di Saikawa Research Lab, pergi bersama-sama para mahasiswanya untuk bersantai di sebuah pulau terpencil. Juga ikut serta Nishinosono Moe, putri dari mantan dosen Saikawa-sensei. Pulau tersebut ternyata merupakan lokasi pusat penelitian sekaligus tempat tinggal seorang jenius yang dikagumi Saikawa-sensei, Magata Shiki.

Sayang, suasana santai pun berubah mencekam ketika terjadi pembunuhan di pusat penelitian tersebut, dengan 2 orang sebagai korbannya...
Bisa ketawa juga ini orang.

Review:

Semua berubah menjadi F. Kalo bicara nilai ujian, maka nilai F itu super amburadul.

Tapi tenang, anime ini nggak amburadul hancur lebur dan nggak dapet F di mata saya. Tentu dengan faktor-faktor yang membuatnya bersinar.

Kelebihan!
Nah ini kelebihannya. #ehbelom
printf ("No.1 - Audio");

Talking dari Kana-Boon dan Nana Hitsuji dari Scenarioart: OP & ED of the Season. End of discussion.


printf ("No.2 - Guess-able Trick");

Saya harus akui kalo hipotesis saya di first impression tidaklah 100% benar. Tapi! Saya yakin, dengan bermodalkan 3-4 episode awal, para penonton akan dapat menebak siapa pembunuh sebenarnya (yang juga sama dengan hasil akhir yang ada di first impression) meski mungkin akan berbeda di detail. Misteri yang terlalu ruwet berpotensi membuat penonton pusing lalu kejang berbusa, yang berhasil dihindari di sini. Pas lah untuk sedikit "olahraga" otak.


printf ("No.3 - Character Design");

Bisa dibilang saya cukup menikmati desain karakter di anime ini. Nggak semuanya cakep, tapi juga nggak semuanya jelek parah. Bahkan saya harus tepuk tangan karena cocoknya tampang Saikawa-sensei dengan kepribadiannya. Semua terasa lumayan realistis karena kita tahu, nggak mungkin kita 100% dikelilingi manusia-manusia nan elok rupanya.
Airnya. AIRNYAAAAAAA #heboh

printf ("No.4 - Main Charaters Characterization");

Ini dia yang paling sukses dari Subete ga F ni Naru. Karakterisasi ketiga karakter utamanya bener-bener menggigit, terasa nendang banget.

Kita punya profesor ekstentrik, Saikawa-sensei, yang sehari-harinya pake kaos dengan maskot hewan, buah, roti... dst. Meski memakai kaos lucu-lucu, tapi aura melankolisnya begitu terasa. Bener-bener berhasil ditransmisikan dengan baik lewat pemikiran dan perilakunya. Tentu juga karena apa yang udah saya bilang di faktor kelebihan sebelumnya, yaitu desain karakter Saikawa-sensei. ASLI TAMPANGNYA ITUUUU... jelek tapi keren. #nahloh

Sang "peredam" Saikawa-sensei, Nishinosono Moe. Berkali-kali Moe sukses membuat interaksi yang menarik dengan sang sensei kesayangannya itu, yang bagi saya menjadi salah satu nilat tambah dari dirinya. Interaksi keduanya yang menjadi favorit saya adalah sewaktu episode 11, yang diwarnai adegan-adegan yang berpindah latar tempat dalam waktu singkat. Itu keren sangaaattt! Plus, seperti yang udah saya katakan di first impression, dia itu extremely observant (bisa membantu penonton yang berpikir) serta nggak bego-bego banget. Otak kalkulator!

Yang PUALIIIIIING menarik dari semua, Magata Shiki. Acuan moralitasnya memang berpotensi memuakkan bagi sebagian orang, tapi... seperti kata Saikawa-sensei di episode 11, "I understand the theory... that's simply how I'm programmed." Entah, pokoknya saya bisa memahami alasan di balik kata-kata dan perilakunya meski jelas nggak setuju. Singkatnya, Anda akan bisa mengerti kayak saya, atau benci sama sekali dengan karakter yang satu ini tanpa ba-bi-bu. Saya juga nggak bisa ngomong banyak di sini, ntarspoiler nggak seru lagi... :P

MUATAMU! *itu beneran mata kan?*


10/10?

Ngimpi! Anime ini masih jauh dari kata layak untuk meraih nilai segitu.

Kelemahan!

Satu! Dat ENGRISH at episode 7. Pengen cakar-cakar monitor rasanya denger English logat Jepang begitu. Pokoknya antara ngakak, sebel, dan kuping gatel pas adegan ini berjalan. Kenapa nggak sewa bule aja sih... (=__=)"

Dua! Illogical things. Saya menemukan dua yang mengganggu:



Tiga! Pacing. Lambatnya ampun-ampun. Kalo kasusnya kayak di Hyouka, slow pace is absolutely perfect karena ceritanya simpel, auranya santai, kasus non-kriminal. Ini? Suspense-nya nggak greget padahal kasusnya serius. Juga terlalu banyak recall ke petunjuk-petunjuk sebelumnya. Percayalah, seandainya jatah episode di anime ini dikurangi satuuuuuuu aja (dan mengompres segalanya menjadi 10 episode), rasanya akan sedikit lebih sedap, atau mungkin setengah season pun udah cukup. Ya... maklum aja lah, di live action-nya aja cuma jadi 2 episode.

Empat! No development. Dari awal hingga akhir episode, nggak ada yang berkembang dari Moe dan Saikawa-sensei. Sifat mereka tetep sama, hubungan mereka juga nggak ada maju-majunya. Sayang banget modal karakterisasinya nggak dimanfaatin untuk hal ini.
"Hah abis?!"


---------------



Rating:

7.3/10 (C+ rank) untuk Subete ga F ni Naru: The Perfect Insider karena kasusnya yang menarik, melibatkan karakter-karakter yang unik, dan nggak lupa untuk opening dan ending theme-nya yang asik.

Direkomendasikan bagi yang mencari anime penghabis waktu luang yang sedikit "mikir".
See you again. Kalo ada S2, jangan lambat-lambat ya.


Tatewaki Shoutarou - Kujou Sakurako

Basic Information: Cilick Link Berikut



Ngelantur Sebentar:

Selain anime sebelah, ada satu lagi anime dengan genre misteri di Fall 2015. Yang satu ini tentu juga nggak terlewat dari watchlist saya. 

Sakurako-san no Ashimoto ni wa Shitai ga Umatteiru; Ada Mayat Terkubur di Bawah Kaki Sakurako-san.

TERUS INI KENAPA JUDULNYA PANJANG SEKALE?!

Ah bodo amat. Review started!



Sinopsis:

Tulang-belulang sudah menjadi keseharian bagi seorang osteolog wanita bernama Kujou Sakurako, sekaligus mengalihkan fokusnya dari interaksi dengan orang lain. Beruntung, seorang anak SMA yang menjadi asistennya, Tatewaki Shoutarou, selalu berusaha menarik sang osteolog untuk tidak meninggalkan kehidupan sosialnya.

Satu hal yang pasti, ke mana pun keduanya pergi... ada mayat yang menanti.
Say hello to the neurocranium!



Review:

Entah kenapa, 3 bulan yang lalu saya langsung kepincut dengan anime ini setelah nengok sebentar entrinya di AniDB. Terasa unik dan misterius... pokoknya gimana gitu deh.

Tentu dengan poin-poin positif yang menarik perhatian.

Kelebihan!
"Kelebihannya ada di surat ini. Baca sendiri lah!" #subtitlengarang

Frontal - Visual!

Poin ini adalah kelebihan yang paling gampang diamati. Suasana sub-urban dan panorama alam yang digambarkan terasa menyejukkan. Nggak rame-rame heboh kayak hiruk-pikuk metropolitan, cocok untuk mewarnai nuansa pelan-pelan dingin.

Nggak lupa juga untuk visual sewaktu Sakurako-san mulai menjelaskan deduksinya dengan kerangka-kerangka berjalan yang berwarna-warni itu... wow. Sedap! d(≧∀≦)
Meski agak repetitif, tapi secara kualitas... BEUUUH JEBRET LAH.

Temporal - Komposisi!

Saya bener-bener jatuh cinta dengan komposisi semi-episodik seperti di anime ini. Saya emang suka anime episodik (1 masalah = 1 episode) sejak lama. Tapi! Kali ini bukan sembarang episodik. Kasus-kasus yang ada ternyata konvergen ke satu problem utama. Kayaknya saya baru satu kali ngeliat yang semacem ini dilight novel yang pernah saya baca beberapa waktu lalu. Awal-awal kayaknya nggak berhubungan, tapi semua memiliki benang merah yang solid. Memang agak melenceng dari formula genre misteri pada umumnya, tapi buat saya itu adalah keunikan tersendiri.


Parietal - Unique Relationship!

Di tengah membludaknya anime-anime yang memiliki unsur romance sebagai unsur utama maupun sampingan, anime ini bagaikan hembusan udara segar yang membawa perbedaan. Bukannya saya nggak demen romance, tapi kalo terlalu sering ya lama-lama bosen juga. Dan saya nggak salah memilih anime untuk menikmati suasana hubungan yang lain dari biasanya. Boleh saya katakan hubungan antara Sakurako-san dan Shoutarou di sini lebih ke arah mentor-disciple mendekati kakak-beradik non-romantik.
"Piwiiiidd... Neng mau ke mana kok buru-buru?" #digaplokfemur

Sphenoid - Kujou Sakurako!

Inti dari segala inti dari anime ini, sang karakter utama itu sendiri, Kujou Sakurako.

Saya selalu kagum dengan karakter pinter, dan ini termasuk salah satunya. Kecerdasannya (khususnya dalam bidang forensik) bener-bener terasa nonjok dipadukan dengan mulutnya yang rada nyablak. Pokoknya kalo deduksi udah tertanam di kepala, hajar bleh! Saya bukan penggemar berat tipe cewek deredere dengan kehalusan dan kelembutan yang (kadang) lebay, jadi yang kayak begini sedapnya luar biasa. Buat saya, cukup Sakurako-san sendiri udah berhasil membuat nilai anime ini melejit.

Satu lagi, saya bener-bener seneng ada character twist di sini. Kecepatan berpikir dan ketajaman lidahnya ternyata menyimpan sedikit sifat yang sedikit kekanakan. Memang hanya childish dalam segelintir hal, tapi justru hal itulah yang bikin saya jatuh hati. Mungkin akan bermasalah bagi sebagian penonton, namun nggak buat saya.
THIS IS THE FINAL REASON TO LOVE HER.

Saya nggak bisa komentar banyak untuk opening dan ending theme-nya, karena rasanya di kuping tuh biasa-biasa aja. Masalah selera aja kali ya. Tapi yang jelas, saya seneng bisa denger lagi suaranya Itou Shizuka. Kayaknya setiap season ada aja dia dapet job ngisi suara. XD~

The true elegant lady. :3



Sedikit informasi, nama-nama yang saya berikan sebagai "nickname" poin-poin kelebihan diambil dari nama tulang-tulang yang menyelubungi otak (cranial bones/neurocranium). Anda yang bergelut di bidang kedokteran, forensik, dan sejenisnya mungkin akan langsung menyadari kalo ada 2 yang kurang:ethmoid dan occipital. (sebenernya liat Wikipedia aja beres kok #plak)

Sesuai dengan jumlah tersebut, ada 2 kelemahan di anime ini.

Pertama, Shoutarou sebagai ethmoid.

Tulang ethmoid merupakan pembatas antara rongga hidung dan otak, juga memiliki koneksi langsung dengan sphenoid. Cocok jika dimisalkan dengan Shoutarou yang fungsinya melengkapi Sakurako-san, sekaligus menjembatani sang osteolog dengan dunia luar.

Sayangnya! Berbeda dengan karakter peredam di anime sebelah, Shoutarou nggak bisa mengimbangi betapaamazing-nya Sakurako-san. Terasa bland dan menurut saya nggak bisa membentuk interaksi karakter yang menarik. Kerjanya Shoutarou itu kalo nggak ngingetin Sakurako-san yang bablas kekanakan, ya nanya-nanya doang. Cuma di 1 episode aja dia mikir sendiri, itu pun terus-menerus dipancing dulu sebelumnya. Juga nggak bisa membantu penonton memikirkan pemecahan kasus, karena segala pengetahuan forensik cuma dijelaskan lewat Sakurako-san. Seandainya dia mahasiswa kedokteran tingkat awal (bukan anak SMA), mungkin cerita di anime ini bisa lebih menarik.

Kedua, plothole sebagai occipital.

Tulang occipital letaknya ada di ujung bawah belakang, yang artinya jika nggak ada, maka otak nggak terlindung sempurna alias tengkoraknya berlubang dan nggak terlindung sempurna.

Ada beberapa hal yang menjadi lubang di anime ini, semuanya menyangkut karakter.

Saya bingung siapa cewek yang tiba-tiba nongol di bagian ujung episode 5 yang nggak diperkenalkan sebelumnya. Masalah adeknya Sakurako-san juga nggak ketauan jelas kenapa. Belum lagi siapa yang terbaring di rumah sakit sewaktu episode 7.

Yang utama dan terutama adalah saya... nggak suka ending-nya. Rasanya dibanting sehingga anime ini nggak fulfilling. Padahal udah bagus saya diarahkan pada sesuatu yang konvergen mendekati akhir, tapi... tiba-tiba abis. Ultimate villain-nya nggak kebongkar pula. Ending seakan berkata, "Mau tahu siapakah Hanabusa sebenarnya? Belilah light novel-nya, atau tunggu season dua!" Sedih lah pokoknya... (T__T)
"Cih... apa gue bilang. Cuma 12 episode sih. Lebihin lah biar bagus!"



---------------



Rating:

7.4/10 (C+ rank) untuk Sakurako-san no Ashimoto ni wa Shitai ga Umatteiru karena visual yang mendukung nuansa dingin dan komposisi episodiknya. Tentu juga untuk Sakurako-san, si protagonis yang asoy~ :3

Direkomendasikan bagi Anda yang mencari anime dingin-dingin ringan.
I'll miss that face. :)

[Review Anime] Gochuumon wa Usagi Desu ka?? (S2)

Aoyama - Mocha
Chiya - Sharo - Rize
Megu - Maya
Chino - Cocoa

Basic Information: Click




Sinopsis:

Masih bersama protagonis lucu-lucu hiperaktif kita, Hoto Cocoa, yang bekerja sekaligus tinggal di kafe Rabbit House. Tentu tidak lepas dari interaksi sehari-harinya dengan keempat temannya, Kafuu Chino,Tedeza RizeUjimatsu ChiyaKirima Sharo...

...dengan sedikit tambahan keceriaan dari kakak perempuan Cocoa, Hoto Mocha.
THE PAWA OF ONEE-SAN



Review:


Seperti halnya review season 2 untuk anime sebelah, kali ini saya hanya akan point out hal-hal yang berubah menjadi lebih baik dibanding season 1. Yang tetap sama? Kita tetap disuguhkan karakter-karakter danseiyuu yang sama dan atmosfer kota anget-anget nan damai.

Jadi, apa yang dibuat lebih baik?
Drunk Sharo best Sharo #plak


Blend #1 - Less Fanservice!

Saya bukan penyuka fanservice buka-bukaan karena mending langsung liat hentong, khususnya untuk tipe anime yang murni menunjukkan kelakuan lucu imut-imut seperti GochiUsa ini. Menurut pengamatan saya, level fanservice yang ada di season 2 ini tampak jelas dipangkas menjadi lebih sedikit. Mungkin hanya akan terasa pada level yang sama jika Anda punya fetish tipe-tipe pakaian tertentu.
INI ANAK YA AMPUN KENAPA SIH LUCU BENER ASAERHAWSGAEAGSHGRH


Blend #2 - Ending Theme!

Saya harus akui kalo saya lebih suka Daydream Cafe (OP season 1) dibanding No Poi! (OP season 2).

TAPI! Untuk lagu ending-nya...!

Tokimeki Poporon yang dinyanyikan Chino, Maya, dan Megu (trio Chimame) bener-bener membunuh karena dipadukan dengan video klip yang sanggup membuat kadar gula darah meluncur bebas hingga jarak 149.597.870,7 kilometer!!! Saya bener-bener nggak bisa bertahan ngeliat kelakuan 3 anak lucu-lucu itu dengan dance-nya yang ceria, plus serangan MEMATIKAN dari ketiganya yang mengenakanhoodie bertemakan hewan sambil menggeleng-geleng manja! (≧∀≦) HGAAAAAAHHHHHH!!!!! HYAAAA KYAAA NYAAAAA #heboh #digampar #diinjek
BISAKAH ANDA BERTAHANNNN??? HNNNNGGGHH #tewas


Blend #3 - Character Dynamics!

Terlepas dari kegilaan saya di atas karena teringat lagi video klip ending, sebenarnya faktor inilah yang amat sangat nikmat dan legit dari GochiUsa season 2. Ada beberapa faktor yang mendukung dinamika karakter di sini.

Pertama, detail.

Genre slice of life nggak menjadi alasan bagi GochiUsa season 2 ini untuk melupakan detail karakter. Malahan, dari karakter minor sampe utama nggak ada yang lepas untuk diberitahu latar belakangnya.

Mulai dari bapaknya Chino dan Rize yang ternyata sesama veteran perang, si penulis Aoyama-sensei yang ternyata punya masa lalu yang unik (dan selalu dikejer editor XD), Mocha onee-san yang udah kayak Cocoa v2.0 dengan fitur-fitur yang lebih upgraded dan reliable, bagaimana trio Chimame itu akhirnya bisa berteman, penyebab persaingan masa lalu antara kafenya Chiya dan Chino, Sharo yang ternyata sedikit berkontribusi membuat Chiya bersifat seperti sekarang, hingga kayak gimana isi rumahnya Rize. Nggak lupa juga penyebab kenapa Cocoa begitu terobsesi menjadi kakak perempuan yang baik, plus banyak lagi yang didapatkan kalo diperhatikan secara teliti. Well, memang sudah seharusnya karena segala macem perkenalan udah ada di season 1.

Kedua, interaksi.

JAUH lebih kaya dibanding sebelumnya. Kita nggak hanya disuguhkan interaksi antar kelima tokoh utama, namun diperluas ke yang lainnya secara lebih intensif.

Minus Aoyama-sensei yang udah kayak makhluk gaib yang bisa nongol di manapun, sisanya boleh saya katakan terlibat dalam situasi-situasi unik yang sangat menghibur dari karakter-karakternya. Kapan lagi bisa ngeliat trio Chimame bersenang-senang bareng dengan senior-seniornya? Kapan lagi bisa ngeliat duet Chino-Chiya yang jadi plot device yang baik? Kapan lagi bisa ngeliat akrabnya Rize dan Maya? Kapan lagi bisa ngeliat... ah sudahlah, banyak deh pokoknya interaksi yang lebih mendalam dibanding season 1. Saya bilangseason 2 ini memang lebih fokus ke karakter dibanding lingkungan kota tempat Rabbit House berada sih, makanya lebih banyak interaksi menarik.

Ketiga, development.

Saya pernah mengatakan kalo ada sedikit development di ujung season 1. Ternyata nggak berhenti sampai di situ! Malah harus saya katakan kalo season 2 ini memiliki character development yang beranjak naik dan nggak keliatan kontras dengan interaksi sehari-hari tanpa konflik berarti (biasanya kelarnya cepet dan nggak ribet). Yang saya maksud di atas tentu tentang hubungan Cocoa dan Chino.

Di season 1, kita disuguhkan Cocoa yang aktif dan periang, serta lebih kekanakan dari Chino. Namun bisa dilihat di season 2, ada perkembangan yang cukup jelas terlihat dari diri Cocoa. Nggak sekedar berantem-berantem unyu doang, tapi juga bisa caring bahkan marah ketika Chino melakukan sesuatu yang membuat Cocoa khawatir dan setelahnya saya ngakak nggak karuan. Cocoa juga udah sanggup mengeluarkansimple remark yang sanggup bikin Chino termotivasi tanpa harus melibatkan kondisi darurat seperti diseason 1. She's a true older sister now. :)

Development yang baik selalu terjadi di kedua sisi, dan demikian pula di sini. Saya ngeliat Chino jadi JAUH lebih terbuka terhadap perasaannya sendiri, mulai berpikir apakah dia terlalu keras dengan Cocoa, bahkan perlahan merasa nyaman dengan perilaku si protagonis hiperaktif itu. Ada dua adegan favorit saya yang jadi tanda kalo development udah terbentuk solid. Satu, ketika episode 10 bagian ujung plus episode 11, sewaktu Chino, Cocoa, and the team bersantai secara outdoor. Perilaku Chino yang nggak rela kehilangan sesuatu yang dikasih Cocoa, bahkan sampe mengejar benda tersebut tanpa banyak mikir, menjadi titik nonjok development yang udah dibangun selama 20++ episode. Dua, di episode 12. Our cute and calm litte girl akhirnya mengakui kalo kehadiran Cocoa itu menyenangkan baginya~ :3

Lalu... kalo didengarkan baik-baik, suara Chino berubah jadi less monotone di season 2 ini. Yang terakhir, dia juga lebih banyak tersenyum. :)
Keduanya juga makin kompak~ :3

Dengan segala hal di atas, Gochuumon wa Usagi Desu ka season 2 berhasil menjadi sekuel yang SANGAT SUKSES tanpa mengurangi unsur cuteness gila-gilaan yang ditawarkan di prekuel.

#dead


10/10? Tentu tidak.

Tapi seperti halnya anime sebelah, yang menghalangi adalah subjektivitas saya sendiri. Nggak ada hal yang mengurangi nilai anime ini di mata saya, namun segala unsur di GochiUsa S2 ini nggak sanggup mengangkatnya hingga nilai tertinggi.

Well, berapa pun nilainya, season 3 itu WAJIB hukumnya! \(≧∀≦)/

Best scene in the entire series. :)

Oh ya... ngomong-ngomong, Anda udah tau kan kalo setting tempat untuk GochiUsa itu 99% based on kota Colmar, Prancis? :P

Nice review, onii-san! #banggasendiri #digeplak



---------------



Rating:

9.0/10 (A rank) untuk Gochuumon wa Usagi Desu ka?? (season 2) karena diolah menjadi lebih baik melalui karakter-karakternya. DAN VIDEO KLIP ENDING-NYA ITU LOH ASTAGAAAA #masihheboh #digebukin

Direkomendasikan untuk siapapun yang sedang mencari anime dengan unsur "obat penenang".

Terima kasih sudah menonton GochiUsa season dua! d(≧∀≦)b

***

[First Impression] Boku dake ga Inai Machi

Fujinuma Satoru - Hinazuki Kayo

Basic Information: Click

Official Website: Click



Kenapa Saya Tertarik Menonton:

1. Plot summary-nya BENER-BENER menarik.
2. Firasat saya kembali mengatakan, anime ini bakal serius ekstrim.



Kesan Awal:

Harus saya katakan bahwa Boku dake ga Inai Machi bener-bener edan di 2 episode awal, membuat saya memiliki prediksi kalo ini bakalan jadi anime of the season jika kualitasnya konstan (atau malah meningkat nantinya?).

Apa aja faktor keren yang membuat saya sanggup berprediksi demikian?
Kupu-kupu. Simbolisme tertentu kah?

Pertama, kita punya protagonis yang unik, Fujinuma Satoru.

Oke lah, kekuatan supranatural yang dimiliki (Revival) nggak begitu bikin saya kaget. Tapi saya harus angkat 4 jempol karena keunikannya, yaitu menggambarkan jalan pemikiran seorang berusia 29 tahun yang bekerja di dalam tubuh anak 10-11 tahun. Totally impressive! Bukan kepribadian ganda atau masalah psikologis lainnya, namun bagaimana cara si karakter memandang permasalahan 18 tahun yang lalu dengan kemampuan kognitif yang lebih upgraded. Saya juga harus angkat topi buat pemakaian dua seiyuu untukinner voice dan cara bicara anak-anak dari Satoru.
Protagonis kali ini mas-mas tukang anter pizza.
Kedua, komposisi.

INI ANJAY SEKALE SUMPAAAAHHH! Dua episode ini suspense-nya bener-bener nggak berhenti! Saya sempet nengok sedikit bagian dari manga-nya, dan ternyata anime ini SUKSES BESAR memotong bagian-bagian nggak penting sehingga pace yang mengalir di 2 episode awal begitu mencengkram, terus-menerus bikin saya heboh nggak karuan.
Saya literally TERIAK sewaktu ngeliat adegan ini!
Ketiga, premis.

Jelas dan SANGAT solid! Tujuan anime ini udah jelas banget akan diarahkan ke pencarian pelaku, PLUS hubungan antara kasus pembunuhan ibunya Satoru dan hilangnya Hinazuki Kayo. Ditambah gilanya komposisi, anime ini bener-bener auto-jebret, sanggup menyerang titik lemah saya yang selalu penasaran tentang hal yang nggak segera diungkap. Saya pun sukses dibikin nggak sabaran TOTAL untuk tau akhir dari kasus ini. Kenapa oh kenapa anime ini begitu mendebarkaaaann ashgawhrabgwhegwahr #berbusa
Kecil-kecil udah anu aja kalean #plak

Sisanya? Atmosfer stoic yang sedap total, plus visual yang mendukung banget untuk suasana melankolik. Opening sama ending theme-nya juga lumayan~ :3

Udah ah, itu aja. Sisanya akan saya bahas di full review kalo udah tamat nanti. :P

Tuh kan kalean anu lagi #dzigggh

Oh ya, ngomong-ngomong soal pelakunya... saya cuma mau ngomong satu hal: red herring. Inget baik-baik trik literatur tersebut. Selamat berteori untuk mencari tahu siapa pelakunya! :3

Saya lemah sama ekspresi begini.... #kejang #berbusa


---------------



9.6/10 untuk 2 episode awal Boku dake ga Inai Machi a.k.a ERASED. Gila lah, jarang-jarang ada anime dengan awal-awal sedap dan nikmat kayak begini!

Boku dake ga Inai Machi tayang setiap hari Jumat pukul 00:55 JST di channel Fuji TV. Untuk sub English... saya ngikutin apa yang ada aja. Tapi bakal terus diganti dari fansub GJM-eraser kalo mereka udah rilis hasilsub-nya.


***

[First Impression] Boku dake ga Inai Machi

Admin

ONGOING SERIES

MoeAnimeCafe - © 2015, All rights reserved.
SEO Reports for kazukuro.blogspot.com